February 24, 2024

Situbondo – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengemukakan diluncurkannya aplikasi pustaka digital untuk santri atau iSantri merupakan upaya untuk menjaga kelestarian dari isi kitab kuning yang selama ini menjadi refrensi pesantren.

“Lewat aplikasi iSantri ini, pengawasan terhadap isi kitab kuning menjadi semakin luas,” katanya kepada wartawan seusai peluncuran aplikasi pustaka digital iSantri di kampus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Senin, 28 November 2016.

Aplikasi iSantri adalah terobosan yang dilakukan oleh Kementerian Agama RI untuk mendigitalikan isi kitab dan litearatur pesantren sehingga seluruh masyarakat, terutama santri dan siswa dapat mengaksesnya tanpa terikat oleh tempat dan waktu karena berbasis internet.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo KHR Ahmad Azaim Ibrahimy sangat mengapreasiasi program yang diluncurkan oleh Kemenag tersebut karena akan mampu menjaga kemurnian isi kitab-kitab yang dihasilkan oleh ulama-ulama terdahulu yang khazanah keilmuannya tidak kalah luas.

“Ada lebih dari 1.000 judul kitab yang ditampung dalam iSantri ini, bahkan sampai 3.000-an kitab yang teraplikasi. Semoga koleksi ini akan terus bertambah,” ujar ulama muda berpengaruh ini.

Menag maupun Kiai Azaim sama-sama mengungkapkan bahwa saat ini ada upaya pengubahan isi kitab khazanah pesantren itu dengan maksud-maksud tertentu yang menyimpang dari maksud asli penulisnya.

“Kitab-kitab yang isinya sudah dijamin ini, isinya mengalami perubahan. Kami di Kemenag akan membentuk gugus tugas yang bertugas untuk meneliti secara jeli kitab-kitab sehingga pihak-pihak yang berupaya untuk mengubah isinya bisa kita awasi dan waspadai,” katanya.

Ia menegaskan gugus tugas itu akan melaksanakan tugas bekerja sama dengan ma’had aly (perguruan tinggi di pesantren) yang memiliki kajian khusus sesuai bidang kajiannya.

“Dengan demikian, khazanah ilmu pesantren ini tetap terawat dengan baik,” kata Lukman Hakim.

Sementara Kiai Azaim menyatakan saat ini kecenderungan masyarakat mengutip sebagian pernyataan ulama yang tertuang dalam kitab kuning di pesantren, kemudian diunggah di media sosial untuk disebarkan secara luas.

“Namun kita perlu mempertanyakan asli tidaknya pernyataan atau teks itu, karena saat ini ada upaya-upaya perubahan isi kitab-kitab itu,” katanya.

Apa yang terjadi di dunia Islam saat ini, kata Kiai Azaim, salah satunya berasal dari rekayasa konten dari kitab-kitab yang menjadi khazanah pesantren tersebut.

“Ketika kontennya diubah, maka otomatis pembaca terdoktrin dengan perubahan itu. Misalnya makna agama itu damai, tapi kalau diubah agama untuk melakukan kekuatan, ini kan sudah berbeda. Ini yang banyak ditemukan,” katanya. (rus/ant)

sumber : santrinews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *